Showing posts with label tentang perempuan. Show all posts
Showing posts with label tentang perempuan. Show all posts

Saturday, April 9, 2011

Di Rumah Lagi

 Lama  ga buka blog saya yang satu ini. blog yang pertama kali saya buat, ketika saya dengan keingintahuan saya yang baru belajar menjelajah dunia maya, yang sebelumnya hanya email, chatting dan browsing saja yang saya kenal.


 sungguh blog mothersproject ini adalah jejak bersejarah yang saya punya, dan sempat saya tinggalkan. sempat tidak puas dengan tampilan, sempat tidak puas dengan template, sempat tidak puas dengan layanan yang ada. tapi alhamdulillah, saya ga merubah or menghilangkan mothersproject saya ini. bukannya apa2, saya ga tau caranya sammpe sekarang. xixixi

saya telah melewati satu waktu dimana saya kembali bekerja di juni 2010 sd maret 2011, dunia kerja yang bikin saya stress... bukan krn kerjanya, tapi rutinitas pp kereta jabotabek yang harus saya hadapi 5 hari dalam seminggu plus, saya harus bangun pagi, mandi pagi, berangkat pagi dan pulang harus pasrah sampai di rumah paling cepat jam 8 malam.

Maret 2011, saya akhirnya terbebas dari rutinitas itu, alhamdullilah saya telah menyelesaikan proyek dengan baik, dan mudah-mudahan tidak ada masalah karena saat ini dalam pemeriksaan tim BPK. kembali di rumah lagi, kembali bermain dengan anak lagi, kembali bisa bangun siang, kembali bisa mandi tengah hari, bahkan sesekali bablas sampai sore, hehehe.. indahnya...

namun ada satu yang sulit sekali kembali,yakni rutinitas saya begadang malam, utak- atik bisnis online saya, posting blog, bahkan sekedar buka FB pun saya jadi malas.. saya sangat kehilangan moment2 saya bersama tim jaringan bisnis. saya harus pasrah ketika downline saya Herni menyusul level saya di oriflame, saya harus terima kalau bonus bulanan saya dari Oriflame menurun karena level saya dikejar para downline yang makin lama makin pinter, dan yang paling meyedihkan, saya kembali gaptek, sementara leader2 yang lain sudah sangat asik dengan tekhnologi baru.

saya sudah di rumah lagi

sudah saatnya saya bangkit, bukankah jiwa saya ada di rumah, semangat saya ada di rumah, dan sebenarnya sumber penghasilan saya pun bisa saya cari dari rumah.

buat Nurul Abidah, leader oriflame yang sudah mengajari saya jadi hi-tec maafkan saya ya, juga buat leader saya Herni yang kemampuan internetnya super canggih... saya mohon maaf ya, tidak mendampingi dimasa sulitnya meraih level baru, tidak informatif. hadeeeuuh... sejuta penyesalan deh pokoknya...

saya sudah di rumah lagi

semangat saya ada di rumah, saya ga mau stuck di kereta lagi dan terpaksa membunuh waktu dengan percuma. saya mau maju, saya mau kerja, saya mau berpenghasilan, saya mau jadi kebanggaan suami dan anak saya.... dari rumah lagi...

ya... saya ternyata memang sudah di rumah lagi

Wednesday, February 11, 2009

bloggwalking

buat yang dah visit blog saya, saya ucapkan terimakasih... buat yang mau comment di artikel saya.. monggo.. silahkan... terimakasih... buat yang lagi belajar bloggwalking dan masih bingung mo komentar apa, seperti saya... monggo... jangan lupa tinggalin koment disini berupa apa saja boleh.. just say hello saja juga oke...

Monday, January 26, 2009

Perempuan=Konsumtif?

Feby Indirani



Alkisah dalam sebuah komik Asterix berjudul La Rose et la Glaive (Asterix dan Senjata Rahasia, 1991), pasukan Romawi menggunakan taktik baru dengan menurunkan pasukan perempuan untuk menyerang Galia. Alasannya, pasukan Galia tentu tidak akan menyakiti perempuan. Sebelumnya, seorang feminis dari luar kota bernama Maestria membuat perubahan mendadak yang menyebabkan para pria menyingkir ke hutan. Ketika pasukan perempuan Romawi datang, para perempuan desa menggunakan taktik menjual pakaian dan perhiasan untuk mengalihkan perhatian lawan. Hasilnya tepat sasaran. Pasukan itu tidak jadi berperang, tapi berbelanja.



Cerita di atas merupakan sebuah contoh betapa citra tentang perempuan sangat lekat dengan konsumtivisme. Sekedar menyegarkan ingatan, konsumtivisme adalah berkonsumsi dengan tidak lagi atas pilihan yang rasional berdasarkan kebutuhan, tetapi lebih memperturutkan keinginan (Prehati,2003). Berbeda dengan istilah konsumerisme. Dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia kontemporer (Peter Salim, 1996), arti konsumerisme (consumerism) adalah cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya.



Dalam konsumtivisme terjadi kerancuan-kerancuan mengenai apa yang benar-benar kita perlukan dan mana yang sekedar kebutuhan semu. Tambahan pula, kita membeli barang bukan karena nilai intrinsiknya tapi karena citra tertentu yang melekat pada produk tersebut. Ilustrasinya begini. Sepatu merk Bata dan Sepatu merk Channel sama-sama sepatu. Tapi ketika kita membeli Channel kita tak sekedar membeli sepatu. Kita membeli brand, membeli gengsi, dan membeli status sosial. Hal-hal yang tidak kita peroleh dengan membeli Bata, meski keduanya adalah sepatu. Saat itulah konsumsi menjadi hobi atau gaya hidup.



Hal itu dipandang wajar jika perempuan yang melakukannya. Perempuan membeli kosmetik; pergi ke salon; membeli sekeranjang produk perawatan tubuh mulai dari lotion dan lulur untuk kulit, vitamin untuk rambut, dan sebagainya. Tidak wangi adalah sebagian dari dosa, karenanya perempuan memburu berbagai produk pengharum tubuh. Masih banyak lagi macam kebutuhan yang menambah panjang daftar ini. Dan selama yang melakukannya perempuan perilaku konsumsi macam apapun relatif masih ditolerir masyarakat.



Ketika seorang laki-laki berpenampilan kurang rapi, orang cenderung memahami. Tapi jika seorang laki-laki tampil dandy, harum dan memperhatikan penampilan, masyarakat masih merasakan ini janggal. Dia mungkin gay. Atau metroseksual. Pokoknya tidak lazim. Sehingga mesti ada istilah khusus bagi kelompok laki-laki seperti ini. Sehingga cukup pantas untuk jadi cover sebuah majalah bisnis Jakarta beberapa waktu lalu dan jadi topik percakapan di banyak media lainnya. Tema-tema yang diangkat media serupa : Bagaimana Perempuan Menyikapi Lelaki metro seksual? Atau Normalkah Lelaki Metroseksual? Dan banyak lagi.



Kenyatannya, tidak semua perempuan doyan belanja dan rajin ke salon. Tidak semua laki-laki juga abai terhadap penampilannya. Karena sifat konsumsi ini bukan sebuah sifat yang kita bawa sejak lahir. Bahwa perempuan bisa melahirkan karena punya rahim, iya. Tapi apakah perempuan lahir ke dunia dengan membawa keranjang?



Ini hanya persoalan identitas jender yang melekat pada perempuan dan laki-laki. Berbeda dengan seks, jender adalah sifat dan ciri yang dilekatkan terhadap laki-laki dan perempuan sesuai dengan ukuran budaya dan nilai masyarakat. Konsep jender dilawankan dengan perbedaan laki-laki dan perempuan menurut seks atau jenis kelaminnya. Jender bisa berubah sesuai dengan perubahan masa dan perubahan nilai-nilai dalam masyarakat. Sementara jenis kelamin (plus alat reproduksi), tetap.



Sifat hobi belanja pada perempuan masuk dalam identitas jender. Bukan sesuatu yang kodrati atau sering kita katakan sebagai ‘dari sononya’. Itu adalah bentukan budaya dan output produk nilai yang tersosialisasi di masyarakat. Jangan lupa, konsep jender adalah sesuatu yang dipelajari dan diwariskan. Usianya lebih tua dari generasi kita bahkan dari generasi orang tua kita. Tapi sekali lagi : bukan tidak bisa berubah.



Terbukti pada era ini, lelaki juga jadi lebih apik merawat penampilannya. Dan tidak ada yang salah dengan itu semua. Saya pernah bertemu beberapa lelaki yang anti betul dengan parfum, cologne dan sebangsanya karena merasa dirinya jadi kurang ‘jantan’. Ini lagi-lagi kesimpulan karena konsep jender yang keliru. Memangnya jantan itu sama dengan bau? Bukankah bagi perempuan (dan juga laki-laki) lebih menyenangkan bergaul dengan lelaki (dan perempuan) yang rapi dan berbau cologne daripada burket?



Justru yang mesti dikritisi adalah budaya konsumtivisme itu tadi. Pernah dengar istilah shopilimia? Dalam psikologi ini dikenal sebagai compulsive buying disorder (penyakit kecanduan belanja). Penderitanya tidak menyadari dirinya terjebak dalam kubangan metamorfosa antara keinginan dan kebutuhan. Ini bisa menyerang siapa saja, perempuan dan laki-laki. Karena baik lelaki maupun perempuan tak ada yang lahir membawa keranjang.
Custom Search

Monday, January 12, 2009

(Artikel) LUKA PEREMPUAN INDONESIA

Masih ada dalam ingatan kita, beberapa waktu lalu seorang Ibu di Malang, Jawa Timur yang membunuh ke 4 anaknya dengan memberikan racun, ia pun kemudian bunuh diri. Menurut surat terakhir yang ditulisnya sebelum ia bunuh diri, alasan ia melakukan aksi meracun anaknya dan bunuh diri adalah akibat tekanan ekonomi yang mendalam.
Beberapa hari kemudian setelah peristiwa tersebut, seperti yang diberitakan di Pamekasan seorang perempuan nekat membakar diri. Perempuan tersebut bunuh diri setelah mengetahui suaminya melakukan selingkuh.
Perilaku seoarang ibu yang membunuh anaknya tentu akan mengundang pertanyaan besar dan sebagian besar masyarakat bahkan dengan serta merta menyalahkannya, karena tega membunuh darah dagingnya sendiri, membunuh anak-anak kecil yang tidak berdosa.
Dom Camara dalam bukunya yang berjudul “Spiral Kekerasan” mengatakan, sudah umum diketahui bahwa kemiskinan membunuh secara sama pastinya dengan perang yang paling brutal. Namun kemiskinan lebih dari sekedar membunuh; ia menyebabkan kerusakan fisik, kerusakan psikologis (terdapat banyak kasus subnormalitas mental akibat kelaparan), dan kerusakan moral (mereka yang dalam situasi perbudakan, sesuatu yang tidak tampak tetapi sungguh nyata, hidup tanpa kepastian akan masa depan dan harapan sehingga jatuh ke dalam fatalisme dan merosot ke dalam mental pengemis).
Kemiskinan bangsa yang diawali oleh krisis ekonomi dan menyebar diikuti dengan krisis multidimensi mengakibatkan psikologis rakyat tertekan. Di saat rakyat mengalami kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, akses pendidikan semakin sulit. sedangkan sistem hukum dan pemerintahanan semakin kacau dan tidak bisa dijadikan sandaran. Maka, pada sistuasi tersebut jiwa masyarakat sangat rentan dan merasa bahwa dunia telah menyangkalnya, bahwa dunia membencinya dengan cara yang amat keji.
Seorang perempuan yang mendapati suaminya selingkuh akan melakukan aksi-aksi fatal yang mengancam hidupnya, karena ia tidak memiliki ‘capital’ yang membuatnya tidak akan pernah sanggup menghadapi persaingan. Seorang perempuan Indonesia yang secara kultur feudal patriarki mengalami diskriminasi untuk mendapatkan akses informasi, keahlian dan pendidikan yang maju dan menghasilkan, tentu akan kelabakan ketika mendapati relasinya yang selama ini menjadi arena pengabdian diri secara total telah menghianati komitmen. Sehingga perasaan tidak memiliki apapun di dunia segera menjadi momok yang menakutkan. Apa yang akan perempuan lakukan jika ia merasa tidak siap menghadapi dunia sesungguhnya seandainya perpisahan dengan suaminya, yang selama ini tidak ia duga menjadi kenyataan, padahal secara nyata ia telah tergantung sepenuhnya pada suaminya.

Hingga saat ini dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara perempuan masih saja menjadi kaum yang termarginalkan, karena memang kenyataannya perempuan masih duduk pada posisi lemah secara ekonomi, pendidikan dan retan penyakit sehingga harapan hidupnya lebih rendah. Namun perempuan tidak ada bedanya dengan laki-laki, penguasa negara yang menciptakan ideology palsu atau ilmuwan-ilmuwan yang memiliki pengetahuan luas, perempuan adalah manusia seutuhnya yang memiliki akal budi, sehingga tidak ada alasan untuk misoginis (jijik) terhadap perempuan.
Bahkan para filsuf dan ilmuwan yang berkonspirasi dengan penguasa dan kaum pemodal seringkali menciptakan kebenaran-kebenaran ilmiah semu guna mendukung kepentingan patriarkinya. Teori-teori yang dicetuskan mencoba menjelaskan gerakan-gerakan evolusioner perempuan sebagai akibat dari penyimpangan-penyimpangan dalam jiwa orang-orang yang terlibat di dalamnya, ketimbang sebagai akibat penyimpangan struktur ekonomi dan social masyarakat itu sendiri. Teori tersebut tidak lebih dari pengembangan teori Freud yang menjelaskan bahwa pemberontakan melawan otoritas Negara tidak lebih dari sekedar ungkapan luar ketidakmampuan rakyat untuk mengatasi pergolakan emosional di dalam diri mereka sendiri yang terkubur ke dalam alam bawah sadar mereka.
Di era serba modern, dimana kemajuan tekhnologi mengalami perkembangan yang sangat pesat masih saja penindasan terhadap perempuan bercokol kuat dibawah sistem budaya feodal dan system ekonomi kapitalis patriarki. Dalam sinetron di TV maupun propaganda iklan, perempuan terus menerus diciptakan sebagai obyek untuk ditonton dan dinikmati karena paras molek dan lekukan-lekukan tubuhnya. Sebagai manusia yang juga memiliki otak, kapasitas berfikirnya tidak diperhitungkan. Bukannya mengembalikan kualitas pribadi perempuan secara keseluruhan, sebaliknya perempuan menjadi bulan-bulanan peraturan daerah, maupun RUU yang diskriminatif dan cenderung bahkan mengkriminalkan kaum perempuan. Tidak cukupkan memposisikan perempuan sebagai obyek kenikmatan pragmatis, kemudian dengan munafik diciptakannya peraturan yang menyerang perempuan yang sebenarnya mereka hanya korban dari system ekonomi dan social yang tidak adil?
Kebijakkan yang dihasilkan pemerintah pun cenderung semakin menjerumuskan rakyat ke dalam jurang kesengsaraan yang dalam. Dapat dipastikan, perempuan dan anak yang paling menderita akibat kebijakkan kenaikan harga BBM, akibat kelangkaan minyak tanah, akibat mahalnya harga beras, akibat lumpur panas Lapindo-Sidoarjo, akibat perusakan alam, bencana kekeringan dan bencana banjir, atau pelayanan kesehatan yang tidak memadai serta pendidikan yang kian mahal.
Ibu-ibu kebingungan mengatur anggaran belanja ketika harga BBM naik, Ibu akan gelisah ketika minyak tanah sebagai sarana dia memasak makanan untuk keluarga kosong di pasar, ketika keringan melanda, ibu-ibu dan anak perempuanlah yang akan hiruk pikuk kewalahan mencari sumber air bersih dan mengangkutnya untuk keperluan keluarga, ketika harga beras melonjak hingga Rp. 6.000/kg perempuan lah yang akan menderita.
Terlebih perempuan memiliki rahim yang dari rahimnya, anak-anak penerus masa depan kehidupan dilahirkan. Jika perempuan mengalami gizi buruk, maka anak yang dilahirkannya akan mengalami hal yang sama. Bila jaminan kesehatan reproduksi bagi perempuan tidak memadai, maka keselamatan bayi yang dikandung juga akan terancam. Jadi sangat jelas, isu-isu sensitif gender dan persoalan-persoalan perempuan sangat penting, karena persoalan tersebut menyangkut masa depan kehidupan manusia.
Sayangnya beberapa waktu lalu presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya sudah merasa berhasil karena capaian-capaian kerjanya mengenai perdamaian konflik Aceh, embargo militer AS terhadap TNI, pelanggaran HAM timor-Timur, Konflik di Papua, utang luar negeri yang berkurang, arbitrase Cemex, Blok Cepu, dan Texmakco. Padahal banyak sekali persoalan lain yang mendesak menunggu giliran untuk ditangani secara adil dan cepat demi kesejahteraan bersama. Persoalan tersebut antara lain, perusakan alam seperti kasus Lapindo yang belum juga menuai jalan terang, jumlah angka kemiskinan yang semakin melonjak, kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan, peradilan bagi koruptor kelas kakap, persoalan kesehatan, pendidikan dan upah buruh,dll, yang semuanya akan berdampak buruk pada rakyat dan terutama perempuan dan anak.
“Jangankan masyarakat yang berkesejahteraan sosial, menyusun masyarakat yang normal sajapun tidak mungkin, sebelum selesainya soal nasional. Tidak mungkin sebelum selesainya soal politik.” Demikian kalimat yang dikatakan bung Karno dalam buku yang berjudul “Sarinah”. Bila hingga saat ini pemerintah justru melarikan diri dari kebenaran sejarah bangsa bukannya menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat, berarti negara ini meneruskan rezim yang lalu, dapat dipastikan pemerintah sekarang adalah kepajangan dari rezim yang lalu. Jangalah berharap pada sistem pemerintah yang telah mewarisi kebobrokan-kebobrokan rejim lama yang korup, militeristik dan berpihak pada kaum pemodal karena suara rakyat tidak akan pernah dipertimbangkan namun sebaliknya sebisa mungkin akan dibungkam—meskipun dengan cara yang lebih halus dengan mengatasnamakan agama maupun kepentingan bersama.
Dimuat Majalah OPSI Jakarta Minggu Ke-3 Maret 2007

join my network : www.dbc-networks.co.cc

Kesetaraan, Tanpa Hilangkan Persoalan Perempuan

Oleh: Maria Hartiningsih (bude-ku tersayang) dan Ninuk Mardiana

Konflik bersenjata, kemiskinan, kelaparan, HIV/AIDS, perdagangan manusia, fundamentalisme, bencana alam, dan lain-lain, adalah gambaran muram situasi perempuan.

Ini diperburuk oleh globalisasi kapitalisme dan program penyesuaian struktural (SAP) sehingga keadaan perempuan saat ini tidak lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu. ”Karena itu penting dipikirkan kembali untuk membuat kajian berperspektif feminis guna mengatasi situasi perempuan yang kian memburuk,” tegas Dr Marylin Porter. Menurut ilmuwan feminis dari Memorial University of Newfoundland itu, pendekatan jender cenderung ”menghilangkan” masalah yang dihadapi perempuan, meskipun soal kesetaraan antara perempuan dan laki-laki tetap penting.

Ia mengungkapkan semua itu ketika menjawab pertanyaan seorang peserta diskusi ”Membangun Teori” dalam rangkaian kegiatan 15 tahun Kajian Wanita Program (PKW) Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) di Jakarta, Kamis (8/12).

Porter bersama Sinta Nuriyah Wahid, Ketua Dewan Kebijakan dan pendiri Puan Amal Hayati, Women’s Crisis Center berbasis pesantren, Meiwita Budiharsana, Direktur Ford Foundation untuk Indonesia, dan antropolog hukum Sulistyowati Irianto, dipandu Saparinah Sadli, memberikan pencerahan kepada para alumni Kajian Wanita Program Pascasarjana UI untuk penguatan kapasitas.

Pada hari kedua Ratna Batara Munti dari LBH APIK, Irwati Harsono dari Derap Warapsari, dan Ketua Lembaga Penelitian Unika Atma Jaya Irwanto berbagi pengalaman mengenai strategi mengarusutamakan jender dengan dipandu Ketua PKW UI Kristi Poerwandari.

Pengungkapan Porter mengingatkan, dalam banyak hal, tanda (dalam hal ini bahasa) mengandung makna tersembunyi atau tidak terlihat sehingga harus sangat berhati-hati menggunakannya. Apalagi kalau hal itu memengaruhi metode pemecahan masalah.

Porter menyebut tiga area dalam tren pemikiran feminis. Yaitu hak-hak perempuan sebagai hak-hak manusia serta agenda kesetaraan dalam pembangunan; fokus pada tubuh, seksualitas dan personal; serta postmodernisme.

Keterkaitan postmodernisme dan feminisme sangat jelas. ”Postmodernisme bermanfaat bagi feminisme karena ia menggugat dan mendekonstruksi kategori-kategori besar yang selama ini kita terima,” ujarnya.

Terlepas dari penggunaan istilah dalam postmodernisme yang sulit dimengerti, bahkan oleh mereka yang berbahasa Inggris (dan Perancis), riset postmodernisme mencakup banyak hal ”kecil” yang diabaikan. Ini akan cocok untuk mengungkap pengalaman perempuan yang diabaikan, untuk memahami masyarakat agar lebih setara, aman, dan adil.

Pengembangan teori dalam kajian feminis, menurut Porter, merupakan upaya kolektif atau kolaboratif pada satu sisi dan titik temu dari pengalaman dan analisis mengenai personal dan politik pada sisi lain.

Dalam membangun kapasitas PKW, Irwanto mengatakan, bila ingin membangun institusi yang menghasilkan gerakan, maka ruang kelas tidak boleh steril, tetapi harus empatik, membawa teori yang rasional dan empiris ke ruang yang personal, yaitu pengalaman perempuan. Untuk itu kelas harus berani terbuka pada hal-hal yang dianggap tabu dan terlarang bila itu memang kenyataan hidup perempuan, terbuka untuk lahirnya perbedaan, metodologi riset dikembangkan untuk mencari jawaban atas hal yang sebelumnya dianggap tidak mungkin, dan terbuka terhadap disiplin ilmu apa pun.

Membangun jaringan

Sementara itu, sependapat dengan Porter, Meiwita Budiharsana menegaskan pentingnya kerja sama dan kolaborasi di antara sesama perempuan agar keterbatasan sumber daya bisa diatasi.

Meiwita masih menengarai adanya jurang yang memisahkan akademisi dengan aktivis organisasi nonpemerintah yang bekerja di lapangan. Jurang itu harus dijembatani dengan kerendah- hatian dan keinginan berbagi pada kedua pihak.

Mengenai upaya melakukan perubahan kebijakan, Meiwita mengingatkan agar kebijakan yang ada dimengerti benar sehingga dapat berbicara berdasarkan data yang konkret.

Menegaskan pandangan Meiwita, dalam sesi diskusi kelompok mengenai internalisasi dan pengembangan budaya baru, Ema Rachmawati mengatakan, yang terpenting dari upaya perubahan kebijakan adalah menguasai sistem pemerintahan yang ada dari berbagai peraturan perundang-undangan.

”Yang juga penting adalah menguasai peraturan perundang-undangan yang mengatur sistem perencanaan dan penganggaran pemerintah sehingga kita dapat melihat celah di mana kita bisa melakukan advokasi kebijakan,” ujarnya.

Sebagai pegawai negeri yang bekerja di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati, yang menyelesaikan studi S-2-nya di Program Pascasarjana Kajian Wanita UI tahun 2001, sangat memahami pendapat Meiwita. ”Tanpa bekerja sama dan berkoordinasi dengan teman-teman ornop, teman-teman di dalam birokrasi, di perguruan tinggi, dan di berbagai organisasi dan lembaga, kita habis,” tegasnya.

Pengalaman membuat jaringan itu dipaparkan Ratna Batara Munti dalam advokasi Undang- undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Inti dari jaringan adalah organisasi nonpemerintah dan ormas perempuan dengan mengajak kelompok akademisi, penyintas, tokoh agama dan masyarakat, kelompok artis peduli, dan media massa. Hasilnya, undang-undang mengakomodasi adanya pendampingan untuk korban yang sebelumnya tidak diakui, mengakui KDRT sebagai kejahatan, dan memberlakukan KDRT sebagai delik aduan.

Jaringan membagi tugas untuk menyusun naskah akademis, mencari simpul-simpul di lembaga kunci yang dapat dijadikan mitra, dan melakukan sosialisasi ke masyarakat. Kini, pengalaman jaringan tersebut diterapkan juga dalam Jaringan Program Legislasi Nasional Pro-Perempuan.

”Meski masih minim, kami mengharap keterlibatan Kajian Wanita (UI) dalam advokasi kebijakan, misalnya mengkaji kritis produk kebijakan RUU, peraturan daerah, rancangan perda dan membuat naskah akademis dan legal drafting, terlibat sebagai tim lobi, tim asistensi, sosialisasi, dan mendorong keterlibatan akademisi lain,” kata Ratna.

Pengalaman di kepolisian yang diungkapkan Irawati Harsono menunjukkan, berjaringan dengan organisasi perempuan ”formal”, seperti perkumpulan istri polisi, juga perlu dilakukan terutama untuk menembus benteng birokrasi di kepolisian. Pada dasarnya, menurut Irawati yang pensiunan polwan dan kini Komisioner Komnas Perempuan, kepolisian terbuka dan mau dibantu, hanya cara pendekatannya harus pas. Instansi ini sifatnya patrimonial, feodal, sentralistik, juga bercuriga, konservatif.

Derap Warapsari, organisasi yang didirikan pensiunan polwan, menanggapi keluhan masyarakat mengenai pelayanan polisi terhadap perempuan korban kekerasan, mengusulkan kepada Mabes Polri untuk menyediakan Ruang Pelayanan Khusus (RPK). Dalam perjalanannya, RPK yang semula tidak berada dalam struktur Polri dalam waktu dekat, menurut Irawati, akan diformalkan di bawah unit penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Membongkar

Perjuangan untuk mengarusutamakan perspektif kesetaraan hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki (jender) di dalam birokrasi dengan upaya mengubah kebijakan bukan hal yang mudah. Apalagi kalau hal itu menyangkut nilai-nilai tertentu agama yang diyakini sebagai kebenaran tunggal.

”Saya menerima banyak ancaman dan teror, serta kemandekan karier. Tetapi, saya tidak mundur,” ungkap Anik Farisa, peneliti dan anggota Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender Departemen Agama. Analisis terhadap berbagai kebijakan dalam hukum Islam membuat Anik dan kawan-kawannya membuat Counter Legal Draft terhadap Kompilasi Hukum Islam.

”Sebenarnya banyak kitab lama yang mendukung kesetaraan,” kata Anik. ”Tapi itu tak pernah dimunculkan.” Dengan demikian, interpretasi agama dapat dijadikan alat politik untuk melakukan dominasi terhadap kelompok tertentu.

Karena itu, seperti dikemukakan Sinta Nuriyah Wahid, tafsir ulang atas fikih keagamaan sangat penting dan membuat agama relevan dengan perkembangan dan konteks zaman.

Nuriyah melihat perlunya penafsiran ayat-ayat yang bisa memberikan jawaban konkret terhadap masalah sosial, seperti kemiskinan dan lain-lain. Bukan jawaban normatif seperti nasihat harus sabar dan tawakal serta berbagai janji surga yang tak menyentuh soal kekinian.

Ia menekankan prinsip kemaslahatan dalam Islam sehingga pemaknaan ulang atas seluruh ayat Quran dapat dilakukan tanpa mendikotomikan antara perempuan dan laki-laki, Arab-nonArab, muslim-nonmuslim, atau perbedaan lain yang menyangkut SARA.

Toh tidak mudah juga. Ketika melakukan tafsir ulang terhadap Kitab Kuning, Nuriyah mengaku banyak ditentang, bahkan dari kelompok santri muda.

Menyasar pada perubahan kebijakan merupakan hal strategis untuk memperbaiki situasi perempuan. Seperti dikemukakan Sulistyowati Irianto, selama ini hukum telah dijadikan alat untuk mendefinisikan kekuasaan kelompok-kelompok tertentu sehingga membatasi ruang gerak perempuan, tidak responsif terhadap persoalan-persoalan perempuan, termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan perempuan. Isu perempuan, menurut Sulistyowati, sangat rentan untuk dimasuki dan dijadikan isu politik karena simbolisasi politik dilekatkan pada seksualitas tubuh dan keberadaan perempuan. Ia mengingatkan pentingnya pembaruan hukum, tetapi harus diwaspadai bila hukum yang dirancang sarat dengan kepentingan untuk menguasai

Friday, January 9, 2009

Perempuan, Apa yang Kau Cari?

Refleksi di Peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret

Neni Utami Adiningsih 

BOCAH mungil bergaun dan bersepatu merah muda itu tampak cantik. Di kepalanya bertengger mahkota dari karton berhias. Naya, nama bocah itu, merayakan ulang tahun pertamanya bersama teman-temannya sore itu. Namun, ia tidak merayakannya di rumah atau di restoran cepat saji seperti biasa dilakukan anak-anak dari keluarga kelas menengah. Ia merayakan ulang tahunnya di tempat penitipan anak (TPA) Sasana Bina Balita (SSB) Mitra.

Demikian alinea awal dari ulasan di Pembaruan (2/3) tentang tren menitipkan buah hati di TPA. Sebuah ulasan yang sungguh menarik untuk dikritisi. 

Tiga, dua, bahkan satu dekade lalu, kondisi seperti ini tentulah peristiwa langka. Ketika itu, apalagi untuk anak yang masih seusia itu (satu tahun), rumahlah yang menjadi tempat dominan merayakan acara ulang tahun. Ada ibu yang sibuk menyiapkan kue tart serta aneka makanan ringan. Ada ayah yang sibuk memasang pita dan balon menyesaki ruang tamu. Ada anak-anak tetangga yang riuh berceloteh. Seakan tidak mau kalah ramai dengan celotehan ibu-ibu yang mengantar mereka. 

Kini, kondisi seperti itu mulai tergeser. Seiring dengan semakin banyaknya perempuan yang bekerja di ruang publik, menjadi ibu publik, semakin banyak pula bermunculan ragam layanan jasa guna menggantikan fungsi keibuan. Salah satunya berupa TPA yang berfungsi menggantikan suasana rumah, lengkap dengan keberadaan sosok ibu sebagai pengasuh, perawat serta pendidik anak.

Kue tart, balon, pita, memang semuanya masih tetap ada, masih memeriahkan suasana ulang tahun, tapi sudah tidak lagi mendapat "sentuhan" tangan ayah-ibu. Orangtua tinggal menyediakan sejumlah uang, dan semuanya beres. 

Bahkan kalau kesibukan kerja begitu menumpuk, orangtua pun tidak perlu hadir di acara tersebut. Toh sudah ada "ibu-ibu (karena ada banyak) pengganti" yang siap untuk memberikan kecupan sayang serta mengucapkan "selamat ulang tahun sayangku..."

Female Modesty 

Bicara tentang keberadaan TPA, sesungguhnya hal ini sudah diramalkan akan terjadi oleh Socrates, seorang filsuf Yunani, dalam karyanya Plato's Republic, ketika ia mengulas gagasan tentang female modesty, yaitu karakter yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, seperti kelembutan serta sifat keibuan. 

Menurut Socrates, bila perempuan ingin "menyamakan" diri dengan laki-laki (seperti yang kini sedang gencar digaungkan), terutama di kancah publik, perempuan harus menghilangkan female modesty yang ada pada dirinya. Perempuan, sebagai seorang ibu, tidak perlu lagi intens melakukan relasi dengan anaknya. Ibu juga tidak perlu lagi menghiraukan "rasa bersalah" yang ada dalam dirinya ketika ia "meninggalkan" anak-anaknya. 

Perlahan namun pasti, ramalan, juga saran, Plato tersebut mulai terjadi. Terbukti saat ini "hilangkan rasa bersalah" menjadi slogan yang selalu ditularkan di antara para "ibu publik", serta disarankan kepada para perempuan yang ingin menjadi ibu publik

"Kan saya bekerja juga untuk anak, untuk memenuhi kebutuhannya, agar ia mendapatkan yang terbaik," demikian kalimat pembenaran yang selalu digaungkan setiap saat. 

Pertanyaannya, jujurkah alasan tersebut? 

Jangan-jangan keinginan tersebut sebagai selubung semata, sementara alasan sesungguhnya justru dilatarbelakangi oleh keegoisan pribadi perempuan yang ingin tampak bermanfaat bagi orang banyak, yang ingin tampak mengamalkan ilmu, yang ingin tampak tidak ketinggalan zaman, yang ingin tampak mandiri dan masih banyak keinginan lain. 

Arlie Russel Hochschild, dalam bukunya The Time Bind: When Work Becomes Home and Home Becomes Work (1997), bercerita tentang orangtua yang "melarikan diri dari tekanan di rumah dengan bekerja". 

Menurutnya, para ibu publik tersebut merasa lebih nyaman, lebih terhormat, dan lebih merasa puas bila berada di kantor daripada terbelenggu di rumah mengurus anak-anaknya. 

Jangan-jangan keinginan untuk bekerja itu juga didasari oleh kesoktahuan perempuan masa kini akan nasibnya di masa mendatang, yang sepertinya akan terjadi perceraian, bahkan seakan-akan suaminya akan meninggal lebih dulu darinya, yang artinya ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi tersebut.

Jangan-jangan keinginan untuk bekerja itu sebagai langkah antisipasi agar terhindar dari kekerasan (domestik). Apalagi saat ini semua pihak, mulai dari LSM "properempuan", perguruan tinggi, juga lembaga-lembaga pemerintah termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan, gencar menyosialisasikan kemandirian ekonomi sebagai upaya untuk menghindarkan perempuan dari tindak kekerasan (domestik). 

Padahal asumsi ini masih perlu dikaji lebih mendalam kebenarannya. Terlebih sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr Hj Fathul Djannah SH MS (dkk) dengan responden para guru dan dosen (yang notabene mandiri secara ekonomi) di Medan (Sumatera Utara), ternyata menyimpulkan bahwa kemandirian ekonomi istri dengan bekerja tidak mencegah mereka dari kekerasan (domestik) yang dilakukan suami. 

Bahkan penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa bentuk kekerasan berkaitan secara langsung atau tidak langsung dengan bekerjanya mereka di ruang publik. 

Belum lagi adanya jargon "yang penting kualitas bukan kuantitas", yang menjadi senjata andalan para ibu publik, semakin membuat mereka merasa tenang meninggalkan anak-anaknya. Mereka menyediakan waktu Sabtu dan Minggu atau hari libur bagi anak-anaknya

Bila ditelaah, hal ini adalah bentuk lain keegoisan ibu publik. Setelah di hari kerja (week days) dengan sepihak (tanpa kompromi dengan anak) memutuskan untuk meninggalkan anak-anaknya dengan orang lain, di hari libur (week end), dengan alasan untuk menjaga kualitas hubungan dengan anak, sekali lagi, secara sepihak mereka memutuskan bahwa anak-anak harus mau bersama dengannya. 

Bagaimana bila pada "hari libur ibu" tersebut anak-anaknya justru sedang ingin bersama temannya atau justru ingin sendirian saja, tidak ingin bersama siapa pun, termasuk dengan ibunya? 

Bahkan saat ini negosiasi pengasuhan anak bak negosiasi dagang, mana yang lebih memerlukan biaya dan pengorbanan (waktu serta psikis) lebih sedikit namun memberikan keuntungan lebih besar, itulah yang dipilih. 

Menitipkan anak di TPA sekelas SBB Mitra misalnya, yang terletak di daerah perkantoran elite Ibukota, "hanya" Rp 500.000 per bulan. Tentu saja biaya ini, lima, 10, bahkan 20 kali lebih rendah dari pendapatan para ibu publik yang bekerja di kantor seputar Jalan Gatot Subroto - Jalan Jenderal Sudirman. Dari sudut negosiasi dagang, tentu saja hal ini sangat menguntungkan. Apalagi para ibu publik tinggal terima beres. 

Pagi hari, sekitar jam 07.00, para ibu publik tinggal mengantarkan anak-anaknya ke TPA. Mereka tidak perlu sibuk menyediakan, apalagi menyuapi, sarapan untuk si kecil, tidak perlu menghabiskan waktu untuk menemaninya bermain, mengajarinya berjalan, berbicara, bersopan santun, tidak juga perlu menghabiskan waktu untuk mendongeng sebelum si kecil tidur siang

Mereka tidak perlu bergelut dengan popok bau. Juga tidak perlu jengkel melihat rumah yang kotor dan berantakan akibat ulah si mungil. Kenapa bisa demikian? Karena semua itu akan dilakukan oleh para "ibu pengganti". Sore hari, mereka tinggal menjemput si mungil yang sudah dalam keadaan bersih dan kenyang. 

Belum lagi mereka justru merasa bahwa TPA telah membuat anaknya menjadi lebih baik. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Nurbaity (37) yang menjadi karyawan sebuah bank. 

Menurutnya, anak pertamanya, Noval (2,5 tahun), yang sudah dititipkan di TPA sejak usia satu tahun, tumbuh menjadi anak yang berani dan kritis, tidak takut menghadapi orang baru, rajin bertanya tentang segala hal, dan menjadi orang yang teratur. 

Tidak pelak, ia pun ingin anak keduanya mengalami hal yang sama sehingga ia pun menitipkan anak keduanya yang masih berusia 3 bulan ke TPA (Pembaruan, 2/3). 

Di masa mendatang, besar kemungkinan rasa tenang para ibu publik ini untuk meninggalkan anak-anaknya di TPA akan semakin bertambah. 

Sebab kemajuan teknologi informasi akan memungkinkan TPA-TPA elite memasang kamera yang dapat diakses melalui internet dari ruang kantor mereka

Apa yang Dicari? 

Tapi anehnya, setelah semua yang dilakukan perempuan modern (dan berpendidikan) terhadap anak-anaknya, ternyata mereka tetap saja ingin mendapat anggapan sebagai ibu yang memedulikan anak-anaknya. Mereka tidak ingin melepaskan female modesty yang ada dalam dirinya. 

Buktinya mereka selalu berucap, "Walaupun bekerja, saya tetap menomorsatukan keluarga." 

Para ibu publik tersebut tetap saja akan tersinggung, bahkan marah, bila ada yang menganggapnya tidak mengasuh dan merawat anak-anaknya. Mereka juga tidak mau bila dianggap lebih mementingkan karier daripada anak-anaknya. 

Dengan minimnya waktu (kualitasnya pun masih perlu dipertanyakan, bukankah tenaga dan pikirannya sudah terkuras di ruang publik?) mereka terhadap proses pengasuhan anak-anaknya, mereka tidak berani mengakui bahwa orang lainlah yang membuat sehat, membuat pintar, bahkan membuat bermoral anak-anaknya. 

Dengan kondisi ambigu yang seperti ini, tidaklah berlebihan bila kemudian muncul pertanyaan, "Perempuan, sebenarnya apa yang engkau cari...?" 

Mudah-mudahan momen Hari Perempuan Intenasional (8 Maret) ini menjadi saat tepat bagi para perempuan untuk mengungkapkan jawabannya... secara jujur

 join our network : http://www.dbc-networks.co.cc 

Thursday, January 8, 2009

Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga

Ditulis pada April 2, 2008 oleh yudiherdadi

Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.” 
 
Marilyn Monroe , menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai berikut:

”.Waspadailah popularitas wahai wanita.Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan manusiawi.”Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah

Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga, penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak adaseorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana.
Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan mereka sendiri.

MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya,membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.
 
Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.
 
Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia. Seorang bijak mengatakan : “Anda yang beraktivitas di luar rumah,baik Anda sebagai dokter, dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah. Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna jika Anda tidak menangan urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.”

Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal senada. “Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat terhormat. Akan tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status ibu rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak dalam lingkup publik. Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, justru ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang baik. Karenanya, dia berkarir sebagai ibu rumah tangga.”

Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:
 
 Istriku Yang Tidak Bekerja
 Suatu ketika
 Siapa yang mengerik sagu?
 Siapa merawat ternak itu?
 Menjadi tumbuh dan menjual makanannya
 Hingga keluarga bertahan
 Siapa menimba air di sumur?
 Merawat dan menyayang anak-anak itu?
 Merawat yang sakit?
 Yang pekerjaannya menghabiskan waktu
 Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik
 dengan temannya?
 Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?
 Yang perjuangannya
 Tak terlihat
 Tak terdengar
 Tak dihargai
 Tak terbantu
 Membantu pembangunan?
 Siapa peduli untuk bilang
 Benarkah Istriku tidak bekerja?

Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Sorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka haru menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu ruma tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum memint sesuatu darinya. Seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.
 
Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempa terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina?

Mulia-nya Posisimu Sayang

 “Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!”

Written by Ummu Raihanah

“Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu
seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang
di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah
penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi
istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau
profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah :” biasa di
rumah saja, mengurus anak-anak, Cuma ibu RT aja,… ga ada aktifitas
lainnya!” Duh,sebegitu hinakah profesi ini ?
Padahal ketika penulis berinteraksi dengan wanita barat sewaktu di
negeri Kanguru diantara mereka ada yang menjawab, “Wow, profesi yang
hebat tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do that!”
Ya,..karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi istri
sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak. Saking beratnya, mereka
memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Anda akan melihat
dengan mata kepala sendiri panjangnya daftar antrian para orangtua
yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke tempat penitipan anak
(childcare). Anda harus menunggu minimal selama 6 bulan sebelum nama
anak anda di panggil*. Rata-rata mereka memilih bekerja daripada
mengasuh anak dirumah. Suatu fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa
para ibu dikalangan wanita barat memilih “melarikan diri” dari tugas
dan tanggungjawabnya sebagai ibu dengan bekerja. Mereka bilang kepada
penulis lebih mudah bekerja daripada tinggal dirumah mengasuh
anak.Mengasuh anak membuatku stress! Itu yang penulis dengar. Bukankah
itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan
tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita
terhadap ibu? Terlebih suami?
Itu baru dilihat dari satu sisi saja,…tidakkah anda melihat bahwa
seorang istri atau ibu dirumah tidak pernah berhenti dari
tugasnya?.Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara
8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai
jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. Ia harus standby
(selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga
ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankan
seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster)
bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha
meringankan beban sakit “sang pasien” dirumah sebelum di bawa kerumah
sakit (yang sebenarnya) apabila ternyata sang ibu tidak sanggup
mengobatinya. Pernahkah anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus
anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi
dirumah anda?
ukankah seorang ibu juga seorang psikolog? Karena tentu anda melihat
sendiri kenyataan ketika datang anak-anak mengeluh dan mengadu atas
kesusahan atau penderitaan yang mereka alami maka sang ibu berusaha
mencari jalan keluar dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang.
Begitupula suami ketika merasa resah dan gelisah bukankah istri
menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami
meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang
dihadapinya. Penulis lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang
psikolog di Australia ada diantara mereka yang harus membayar $100
perjam dan tentu saja tidak ada jaminan mereka bisa membantu
menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi.
Bukankan seorang istri/ibu dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah
anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak dirumah
yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau. Anda memiliki juru
masak pribadi dirumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat
tersedia bagimu dan juga untuk anak-anakmu. Pernahkah anda
membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk
mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda?
Masih banyak sisi lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu
persatu. Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal
yang berbunyi :” Al-Ummu madrasatun idza a’dadtaha ‘adadta sya’ban
tayyibul ‘araq” maknanya “seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika
engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah
mempersiapkan sebuah generasi yang unggul”. Ditangan ibulah masa depan
generasi sebuah bangsa.Karena itulah islam sangat menghormati dan
menghargai profesi ini. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri bahwa
kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan sang ayah.** Karena
Islam melihat tanggung jawab yang berat yang di emban seorang ibu, itu
menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang
mulia dan sangat terhormat. Lalu mengapa kita masih malu ya ukhti??
Ayo,..angkatlah wajahmu dan katakan dengan bangga bahwa aku adalah
seorang “ibu rumah tangga!!” sebuah profesi yang sangat berat dan
tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu. Al-jaza’u
min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal/perbuatan yang ia
lakukan.Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba
maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a’lam
bisshawwab

Footnote:
*Tak jarang para orang tua ada yang harus menunggu selama 1 tahun
karena penuh dan banyaknya antrian (waiting list) dari tahun
sebelumnya.
**Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan, ada seorang
yang datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam seraya
bertanya :”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya
pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab: Ibumu! Orang itu bertanya
lagi: “Lalu siapa?” Ibumu! Jawab beliau. Lalu siapa lagi? Tanya orang
itu, Beliaupun menjawab: Ibumu!, Selanjutnya bertanya:”Lalu siapa?”
Beliau menjawab: Ayahmu” (Mutaffaqun Alaih).
Imam Nawawi mengatakan; Hadits tersebut memerintahkan agar senantiasa
berbuat baik kepada kaum kerabat dan yang paling berhak mendapatkannya
diantara mereka adalah ibu, lalu ayah dan selanjutnya orang-orang
terdekat.
Didahulukannya ibu dari mereka itu karena banyaknya pengorbanan,
pengabdian, kasih sayang yang telah diberikannya. Dan, karena seorang
ibu telah mengandung, menyusui, mendidik, dan tugas lainnya” tutur
para ulama (lihat Al-Jami’ Fi fiqh Nisa bab birru walidain Syaikh
Kamil ‘Uwaidah)
Muraja’ah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc